HomeDaerahDistan Lebak Luruskan Data Kekeringan: 14 Hektare Sawah Puso Dipastikan Pulih

Distan Lebak Luruskan Data Kekeringan: 14 Hektare Sawah Puso Dipastikan Pulih

LENSADIALEKTIKA LEBAK – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak mengklarifikasi data lahan pertanian terdampak kekeringan yang sebelumnya mencapai 294 hektare. Dari jumlah tersebut, lahan seluas 14 hektare yang sempat masuk kategori puso atau gagal panen kini dipastikan telah pulih.

Kepala Distan Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, mengatakan lahan tersebut kembali produktif setelah mendapatkan tambahan pasokan air melalui bantuan pompa maupun upaya pengairan yang dilakukan petani.

“Alhamdulillah, angka 14 hektare yang sempat muncul sebagai kategori puso itu sudah dipulihkan. Lahan-lahan tersebut kembali produktif karena sudah terairi, baik melalui bantuan pompa maupun karena petani sudah melakukan panen,” kata Rahmat, Selasa (21/7/2026).

Rahmat menegaskan, berdasarkan hasil klarifikasi terbaru, saat ini tidak ada laporan resmi terkait lahan pertanian yang mengalami puso secara permanen akibat kekeringan.

Ia menyebut, data 294 hektare merupakan lahan yang terdampak kekeringan akibat minimnya curah hujan. Kondisi lahan bervariasi dan tidak seluruhnya mengalami kerusakan parah.

Wilayah yang dinilai rentan berada di kawasan lahan tadah hujan atau sawah guludu yang minim akses sumber air. Sebagian besar lahan terdampak berada di Kecamatan Rangkasbitung seluas 227 hektare dan Kalanganyar 49 hektare.

Untuk mengantisipasi kekeringan, Distan Lebak bersama Kementerian Pertanian telah menyalurkan bantuan pompa air mobile kepada kelompok tani. Selain itu, sebanyak 28 titik Irigasi Perpompaan (IRPOM) tengah dibangun untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber air permukaan.

Namun, Distan menilai pompa mobile belum menjadi solusi permanen bagi lahan yang tidak memiliki sumber air. Karena itu, Pemkab Lebak kini menginventarisasi lahan tadah hujan yang rawan kekeringan sebagai dasar pengajuan pembangunan sumur bor atau sumur dalam.

“Instruksi Pak Bupati jelas, kita harus mendata luasan lahan tadah hujan agar tidak terulang lagi kegagalannya. Tahun 2027 mendatang direncanakan pembangunan sumur bor di titik-titik rawan kekeringan,” ujar Rahmat. (Budi Purnama).

Must Read