LENSADIALEKTIKA,LEBAK, BANTEN – Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya video seorang perempuan bernama Ida Farida yang mengaku menjadi korban perlakuan tidak pantas oleh seorang tokoh Banten berinisial AS di sebuah hotel di Bandung sekitar dua tahun lalu.
Namun, dalam perkembangan terbaru, Ida Farida justru mengklarifikasi bahwa isu tersebut adalah hoaks dan meminta maaf atas kebingungan yang ditimbulkan.
‎‎Sebelumnya, akun TikTok @wanitapancasila mengunggah video di mana Ida Farida dengan tegas mengakui adanya hubungan tidak pantas dan menuntut pertanggungjawaban tokoh berinisial AS. Dalam video itu, ia menyebut telah menyimpan bukti berupa foto dan video di flashdisk dan berniat menempuh jalur hukum.
‎Pengakuan tersebut sempat memicu reaksi keras dari berbagai kalangan, termasuk aktivis Banten asal Lebak, Eli Sahroni (Ketua Umum Badak Banten Perjuangan). Eli Sahroni menyatakan rasa prihatin dan miris, serta menilai pengakuan tersebut sebagai preseden buruk bagi citra Banten yang religius.
‎”Banten memiliki pemimpin yang akhlaknya rusak, Banten yang religius agamis dipimpin oleh manusia rusak moral,” kata Eli Sahroni kepada media di Rangkasbitung, Sabtu (107/2026).
‎Namun, tak berselang lama setelah videonya viral dan menuai banyak komentar, Ida Farida mengeluarkan pernyataan klarifikasi. Melalui akun media sosialnya dan dikonfirmasi oleh sejumlah portal berita lokal seperti Ekbis Banten dan Banten Pro, Ida Farida membantah keterlibatannya dalam isu pelecehan tersebut.
‎”Saya Ida memohon maaf atas beredarnya isu dengan salah satu tokoh Banten di TikTok. Itu berita hoaks. Saya sendiri tidak mengetahui dan tidak terlibat dalam penyebaran informasi tersebut,” ujar Ida Farida dalam klarifikasinya pada Kamis lalu.
‎Ida menegaskan bahwa dirinya tidak pernah membuat video pengakuan pelecehan seksual terhadap tokoh berinisial AS. Ia menduga ada pihak lain yang menyalahgunakan identitas atau wajahnya untuk menyebarkan narasi palsu.
‎Viralnya video hoaks ini sempat mencoreng nama baik tokoh Banten berinisial AS, yang diduga merupakan pejabat publik atau figur sentral di daerah. Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam menerima informasi di media sosial dan tidak langsung menghakimi sebelum adanya verifikasi resmi.
‎Hingga saat ini, belum ada laporan resmi dari kepolisian terkait dugaan pemalsuan identitas atau penyebaran hoaks yang dilakukan oleh oknum tertentu yang menggunakan nama Ida Farida. (Budi Purnama).

