LENSADIALEKTIKA, LEBAK – Di tengah kerasnya “pertandingan hidup”, Muhammad Wahyu tampil layaknya playmaker andalan dari SMAN 2 Rangkasbitung. Meski berasal dari keluarga sederhana dan berstatus anak yatim, ia terus menunjukkan performa impresif di “lapangan” pendidikan.
Wahyu, siswa asal Warga, Solear, Kecamatan Maja, sempat “ditarik keluar dari pertandingan” selama satu musim—harus berhenti sekolah selama setahun karena keterbatasan biaya. Namun, semangatnya tak pernah padam. Ia kembali “turun ke lapangan” dengan determinasi tinggi, bahkan rela menempuh perjalanan hingga 7 kilometer dengan berjalan kaki atau naik angkot demi bisa berlatih—alias belajar—di sekolah.
Secara statistik, Wahyu mencatatkan “rekor” yang patut diperhitungkan. Prestasi akademiknya konsisten di papan atas, dengan kecerdasan di atas rata-rata yang menjadikannya salah satu “pemain kunci” di sekolah.
Kini, Wahyu tengah bersiap menatap “liga yang lebih tinggi”, yakni perguruan tinggi. Namun, untuk bisa naik kasta, ia membutuhkan “dukungan manajemen”—yakni bantuan biaya pendidikan atau beasiswa kuliah gratis.
“Semoga ada perhatian dari pemerintah atau pihak terkait. Potensi Wahyu sangat besar, sayang jika tidak didukung untuk melanjutkan pendidikan,” ungkap pihak keluarga, berharap ada “transfer” menuju kampus impian.
Perjalanan Wahyu adalah bukti bahwa kerja keras, disiplin, dan semangat pantang menyerah bisa membawa seseorang tetap bertahan di tengah tekanan. Tinggal satu langkah lagi menuju “liga profesional” pendidikan—dan dukungan adalah kunci untuk mewujudkannya.
Jika kesempatan itu datang, bukan tidak mungkin Wahyu akan menjadi “bintang besar” yang mampu mengangkat derajat keluarga sekaligus mengharumkan nama daerah. (Budi Kombes).

