LENSADIALEKTIKA LEBAK – Bupati Lebak Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya menegaskan Keraton UMKM Lebak Ruhay bukan pasar tradisional maupun kawasan Pedagang Kaki Lima (PKL), melainkan ruang pengembangan dan pemasaran produk UMKM.
Penegasan itu disampaikan Hasbi saat meresmikan Keraton UMKM Lebak Ruhay di Rangkasbitung, Jumat (21/8/2026).
“Ini UMKM, bukan PKL,” tegas Hasbi.
Menurutnya, keberadaan Keraton UMKM menjadi wadah bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan dan memasarkan produk unggulan Lebak. Kawasan tersebut diharapkan mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat.
Hasbi juga mengingatkan agar konsep Keraton UMKM tidak bergeser menjadi pasar. Pemerintah, swasta dan masyarakat diminta bersama-sama menjaga kawasan tersebut tetap fokus pada pengembangan UMKM.
Pemilik Keraton UMKM Lebak Ruhay, Salim Sugiharto, mengatakan Lebak memiliki banyak produk unggulan yang selama ini belum dikenal luas.
“Dari dulu Lebak itu punya produk unggulan. Ada, tapi seperti tidak ada. Artinya produknya ada, tetapi banyak yang tidak tahu,” kata Salim.
Ia menyebut produk seperti gula, olahan pangan lokal, durian hingga kerajinan batok dari Sawarna berpotensi dipasarkan melalui kawasan tersebut.
Untuk tahap awal, sekitar 170 hingga 179 tempat usaha disiapkan bagi pelaku UMKM. Pengelola juga memberikan kesempatan berjualan secara gratis selama dua hingga tiga bulan untuk melihat perkembangan dan keseriusan pelaku usaha.
Salim menekankan pelaku UMKM harus konsisten dan tidak mudah menyerah.
“Kalau mau maju, harus ulet, terus berusaha dan tahan banting,” ujarnya.
Keraton UMKM Lebak Ruhay selanjutnya diharapkan menjadi etalase produk lokal sekaligus ruang tumbuh bagi pelaku usaha Lebak, sebelum memperluas pemasaran ke tingkat Banten dan pasar yang lebih luas.
Dengan konsep tersebut, keberadaan Keraton UMKM diharapkan tidak hanya mendatangkan transaksi, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi rakyat di Kabupaten Lebak. (Budi Purnama).

