LENSADIALEKTIKA LEBAK – Kawasan wisata adat Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, sedang mengalami puncak musim durian. Fenomena tumpukan buah berduri di teras rumah panggung warga menjadi pemandangan khas yang memikat ribuan wisatawan.
Seorang pedagang lokal, Jamal, mengaku omzetnya melonjak drastis hingga mencapai Rp5 juta bahkan Rp10 juta per hari berkat membanjirnya pesanan dari berbagai daerah.
Jamal, salah satu warga Baduy sekaligus penjual durian, menyatakan bahwa musim durian tahun 2026 merupakan yang paling produktif dalam beberapa tahun terakhir, terutama jika dibandingkan dengan masa pandemi. Puncak musim ini dimulai sejak awal Agustus dan diprediksi akan berlanjut hingga September.
“Tahun ini cukup banyak berbuahnya jika dibandingkan beberapa tahun ke belakang. Masifnya musim durian tahun ini juga didorong oleh masa kemarau yang datang berbarengan, sehingga buahnya jadi sangat melimpah,” kata Jamal, saat ditemui di Alun-alun Rangkasbitung. Jumat (21/8/2026).
Durian Baduy dijual dengan harga bervariasi, mulai dari Rp20.000 hingga Rp150.000 per butir, tergantung pada ukuran dan kualitas buah. Namun, harga dapat lebih terjangkau jika pembeli melakukan transaksi secara borongan.
Jamal mengungkapkan bahwa dalam kondisi normal, ia mampu menjual hingga 200 butir durian per hari secara eceran. Namun, saat ada pesanan borongan dari tengkulak atau pelanggan tetap, volumenya bisa menembus 1.000 butir sekali transaksi.
“Sehari pendapatan bisa tembus Rp5 juta, kadang Rp10 juta. Saya memiliki pelanggan tetap dari Bogor, Jakarta, hingga Bekasi yang biasa membeli lewat sistem borongan,” jelasnya.
Demam durian di Baduy tidak hanya soal transaksi jual-beli, tetapi juga menjadi daya tarik wisata tersendiri. Banyak wisatawan yang sengaja berkunjung ke Baduy untuk menikmati sensasi makan durian langsung di sumbernya, sambil menikmati keindahan alam dan budaya adat yang masih terjaga.
“Jadi ketika wisatawan membeli buah durian di Baduy, mereka tidak hanya mendapat durian, tapi juga keindahan alam di Baduy,” tutup Jamal.”(Budi purnama )

