LENSADIALEKTIKA LEBAK, BANTEN – Menyoroti kian kritisnya persoalan sampah di Indonesia yang mencapai 27,74 juta ton pada tahun 2024, Guru Besar Kebijakan Lingkungan Universitas Serang Raya (Unsera), Prof. Dr. Delly Maulana, MPA, menawarkan solusi fundamental melalui pendekatan nilai spiritual dan perubahan perilaku berbasis pendidikan.
Ia menekankan bahwa strategi teknis pemilahan sampah hanya akan berhasil jika didorong oleh motivasi intrinsik masyarakat yang bersumber dari kesadaran religius dan budaya.
Prof. Delly mengutip laporan What a Waste 3.0 dari Bank Dunia yang menyebutkan volume sampah global diprediksi melonjak hingga 3,86 miliar ton pada 2050 jika tidak ada perbaikan sistem.
Di Indonesia, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan sisa makanan masih menjadi penyumbang terbesar (39-40%), sementara sampah plastik terus meningkat dari 15,88% di 2019 menjadi 19,65% di 2024.
”Penanganan sampah memiliki nilai strategis dalam agenda SDGs nomor 12. Namun, pendekatan top-down selama ini terbukti kurang efektif karena kurangnya partisipasi aktif masyarakat,” ujar Prof. Delly dalam tulisannya, Kamis (13/8/2026).
Untuk membangun kepedulian masyarakat, Prof.Dr. Delly Maulana menyarankan pemerintah menggandeng tokoh agama atau ulama. Ia menyoroti bahwa nilai-nilai Islam seperti “Kebersihan sebagian dari Iman” dan ayat Al-Qur’an Surat Ar-Rum ayat 41 tentang kerusakan alam akibat ulah manusia, dapat menjadi landasan kuat untuk mengubah perilaku.
”Masyarakat perlu merasa bahwa mengelola sampah adalah bentuk ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ini akan membangkitkan motivasi intrinsik, sehingga kebijakan tidak berjalan sebelah tangan,” jelasnya.
Selain pendekatan spiritual, perubahan perilaku harus ditanamkan melalui lembaga pendidikan. Prof. Delly mendorong kolaborasi antara pemerintah dan sekolah, mulai dari PAUD hingga Perguruan Tinggi, untuk mengajarkan prinsip 3R (Reuse, Reduce, Recycle) dan pemilahan sampah.
”Pendidikan lingkungan juga harus dilakukan secara informal di tingkat RT, RW, hingga kecamatan. Masyarakat harus paham dampak nyata jika mereka abai terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan,” tambahnya.
Prof Dr. Delly Maulana, berharap pemerintah dapat merumuskan kebijakan pengelolaan sampah yang dimulai dari level rumah tangga. Kebijakan tersebut harus mencakup mekanisme sanksi bagi pelanggar dan insentif bagi warga yang disiplin memilah sampah.
”Dengan kombinasi nilai spiritual, pendidikan karakter, dan regulasi yang tegas, kita harap kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dapat terwujud secara konsisten,” pungkasnya. (budi Purnama).

